Selamat datang di blog sederhana ini

Jumat, 30 April 2010

Mengelas Dengan Hati

Halo Sobat pengelasan. Setelah beberapa hari disibukkan dengan pekerjaan, akhirnya saya dapat menjumpai Anda lagi di akhir pekan ini.

Terus terang sebenarnya saya agak bingung mau menulis tentang apa kali ini, tulisan apa yang kira-kira bermanfaat bagi Anda dan bagi saya. Ada beberapa tema yang kira-kira bisa saya angkat, tetapi saya akhirnya teringat dengan salah seorang teman saya yang berprofesi sebagai tukang las.

Ya, kira-kira tiga hari yang lalu saya sempat ngobrol dengan teman saya ini, sebut saja namanya Har. Beliau ini usianya sudah hampir menginjak kepala 5, rambut sudah banyak yang putih, akan tetapi semangatnya masih sama dengan yang usianya kepala 2 atau 3. Pengalaman di bidang las sudah banyak sekali, dan sering mengelas untuk pembuatan WPS ( Welding Procedure Specification ). 

Pada waktu itu teman saya ini bilang, bahwa sekarang ini banyak tukang las yang bekerja hanya kejar setoran saja. Artinya mengerjakan
pengelasan sekedarnya saja, asal-asalan, asalkan terlihat rapi, tidak ada cacat yang terlihat secara mencolok. Mengenai cacat dalam yah itu urusan nanti. Mereka tidak memperhatikan syarat-syarat yang harus ada dan dilakukan pada saat mengelas. Bila ada gap yang terlalu sempit, jarang ada yang mau melebarkan, juga sebaliknya. Pembersihan area las setelah root pass juga sekedarnya saja. Prosedur las juga kadang-kadang tidak dilakukan dengan cara yang sesuai. Apalagi kalau bicara mengenai pemakaian APD ( alat pelindung diri ), juga sekedarnya saja asalkan sudah pakai topeng las, beres. Pendek kata, rasa peduli terhadap hasil las kurang dan keselamatan diri sendiri juga diabaikan.
Semuanya itu sebabnya hanya satu kok mas ( dia panggil saya mas, meskipun usia saya lebih muda ). Yaitu karena kebutuhan perut, mereka mengerjakan pengelasan dengan cepat dan tergesa-gesa, agar bisa segera selesai dan dapat hasil banyak, ujung-ujungnya bayarannya banyak.

"Lho Lik Har apakah itu salah kalau mereka ingin agar pekerjaannya cepat selesai dan dapat bayaran banyak?" tanya saya.

"Ya kalau itu nggak salah mas, salahnya adalah mengerjakan cepat-cepat dan berharap dapat bayaran banyak, tapi dengan mengabaikan prosedur pengelasan. Kan hal ini bisa bahaya to Mas?"jawabnya.

Sambil klepas-klepus menghisap rokok Jisamsu, dia melanjutkan" Lha kalau terjadi cacat dalam yang kita tidak bisa lihat dengan mata telanjang, terus mengakibatkan assemblingan jadi patah bagaimana? Kalau misalnya assemblingannya patah dan mengenai orang sampai terluka bagaimana? Atau kalau las-lasannya untuk konstruksi kendaraan, lalu dikendarai orang, terus patah dan mengakibatkan kecelakaan bagaimana? Kan dosa kita..."

Lha terus piye Pak Lik?

Yaa kejar setoran itu  boleh-boleh saja, tapi kita dalam mengelas ini harus dengan hati. Kalau ngelasnya dengan hati, maka kalaupun harus kejar setoran, pengerjaan pengelasan juga dilakukan sesuai prosedur, agar hasil las bagus, tidak deformasi, tidak ada cacat luar maupun cacat dalam, dan pengelasan dilakukan dengan sebaik-baiknya karena kita sadar bahwa konstruksi yang dilas oleh kita ini nantinya akan digunakan oleh orang lain. Jangan sampai terjadi orang lain menjadi korban akibat kelalaian kita  karena patah las-lasannya.

Ya itulah sobat pengelasan cuplikan obrolan saya dengan teman saya itu. Setelah saya renungkan memang benar apa yang teman saya katakan itu, dan saya mendapat suatu pelajaran baru yaitu "Mengelas Dengan Hati".

Bagaimana pendapat teman-teman...?

Salam.



3 komentar:

  1. mau tanya pak
    jemuran saya dari aluminium. patah satu bagian , apakah bisa dilas (sambung) ?? trim atas infonya.

    BalasHapus
  2. tentu saja bisa pak. asalkan kawat lasnya menggunakan kawat las almunium juga, termasuk proses lasnya menggunakan proses las yang sesuai, tentu jemuran bapak bisa dilas dan digunakan lagi. selamat jemur pakaian lagi pak

    BalasHapus
  3. info yg menarik, keep posting :)

    BalasHapus